Cirebon, 20 Agustus 2026 — Program Studi Magister (S2) Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UINSSC) menyelenggarakan International Studium Generale dengan tema “Digital Transformation and Sustainable Islamic Community Development: Strengthening Social Innovation, Inclusion, and Global Collaboration”, Kamis (20/8/2026).
Kegiatan yang dilaksanakan secara luring di Gedung Siber UINSSC dan daring melalui Zoom tersebut menghadirkan dua pemateri dari dalam dan luar negeri, yakni Raison Dimaampao Arobinto dari Filipina dan Prof. Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, S.Sos., M.Si. dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Kegiatan dipimpin oleh Dr. Hj. Mumun Munawaroh, M.Si., selaku Ketua Program Studi S2 PMI UINSSC. Dalam kesempatan tersebut, Dr. H. Hajam, selaku Wakil Rektor III UINSSC, turut memberikan sambutan. Ia menekankan pentingnya keberadaan Program Studi PMI dalam menjawab kebutuhan pembangunan masyarakat dan berkontribusi di berbagai sektor.
Transformasi Digital bagi Pembangunan Masyarakat Muslim di Filipina
Pemateri pertama, Raison Dimaampao Arobinto, menyampaikan materi bertajuk “Digital Transformation and Sustainable Islamic Community Development: Strengthening Social Innovation, Inclusion, and Global Collaboration: A Perspective from Muslims in the Philippines.”
Raison Dimaampao Arobinto merupakan pejabat pemerintah, pengacara Syariah, dan ahli kebijakan publik asal Filipina. Ia berpengalaman dalam bidang pengembangan industri halal, perdagangan, investasi, serta kebijakan publik. Ia pernah menjabat sebagai pejabat/division chief pada Department of Trade and Industry (DTI) dan sebelumnya berkiprah di Philippine Economic Zone Authority (PEZA). Ia merupakan lulusan Hukum Islam dengan predikat Cum Laude dari Mindanao State University dan meraih gelar master dalam bidang Studi Islam serta Studi Kependudukan dari University of the Philippines.
Dalam paparannya, Raison menjelaskan kondisi masyarakat Muslim di Filipina yang memiliki keragaman etnolinguistik dan sejarah panjang perkembangan Islam, khususnya di wilayah Filipina Selatan. Perjalanan masyarakat Muslim Filipina kemudian memasuki fase baru melalui terbentuknya Bangsamoro Autonomous Region in Muslim Mindanao (BARMM) pada 2019, yang menandai proses transisi dari konflik menuju peacebuilding, pembangunan kelembagaan, dan pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, transformasi digital menjadi salah satu instrumen penting dalam proses pembangunan Bangsamoro. Meskipun otonomi politik membuka berbagai peluang, masyarakat masih menghadapi persoalan berupa keterisolasian geografis, kemiskinan, kesenjangan pendidikan, keterbatasan infrastruktur digital, serta ketidaksetaraan akses terhadap berbagai peluang.
Dalam konteks tersebut, transformasi digital tidak semata-mata dipahami sebagai proses adopsi teknologi. Transformasi digital perlu diarahkan oleh nilai-nilai Islam, antara lain ilm (pengetahuan), maslahah (kemaslahatan), adl (keadilan), amanah (kepercayaan dan akuntabilitas), serta khilafah (tanggung jawab sebagai pengelola).
Raison juga mengangkat pentingnya social innovation dan digital inclusion dalam pembangunan masyarakat. Berbagai inovasi seperti platform pendidikan digital, pusat pembelajaran masyarakat, layanan telemedis, sistem respons bencana, dan layanan digital untuk pertanian dapat menjadi instrumen untuk menjawab kebutuhan masyarakat.
Ia juga menekankan peran pemuda Muslim sebagai digital change-makers. Pemuda tidak hanya diposisikan sebagai pengguna teknologi, tetapi dapat berperan sebagai inovator, pengusaha, pengembang teknologi, pemimpin social enterprise, maupun advokat masyarakat.
Di sisi lain, transformasi digital harus memastikan bahwa kelompok rentan tidak tertinggal. Perempuan, masyarakat pedesaan dan terpencil, masyarakat adat, pelajar madrasah, serta pelaku usaha kecil perlu memperoleh akses dan kesempatan yang setara. Prinsip inklusi sebelum efisiensi menjadi salah satu pesan penting yang disampaikan dalam sesi tersebut.
Aspek etika digital juga menjadi perhatian. Masyarakat Muslim menghadapi tantangan berupa misinformasi, ujaran kebencian, polarisasi, hingga ekstremisme daring. Karena itu, Raison menekankan pentingnya prinsip tabayyun, yakni memverifikasi dan mengonfirmasi informasi sebelum mempercayai, menyebarkan, atau mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut.
Dalam bidang pemberdayaan ekonomi, transformasi digital dinilai membuka peluang melalui Islamic fintech, mobile banking, e-commerce, kewirausahaan halal, serta inovasi dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Ekonomi halal juga memiliki peluang pengembangan dalam sektor makanan, pariwisata, fesyen, pendidikan, dan industri kreatif.
Raison turut mendorong penguatan kolaborasi Indonesia dan Filipina, khususnya melalui pertukaran pendidikan, penelitian, inovasi digital, pengembangan startup, keuangan Islam, sertifikasi halal, kepemimpinan pemuda, serta pemberdayaan perempuan.
Dari Interpretasi Menuju Transformasi
Sementara itu, pemateri kedua, Prof. Dr. Pajar Hatma Indra Jaya, S.Sos., M.Si., menyampaikan materi berjudul “From Interpretation to Transformation: The Role of Intellectuals in the Digital Age.”
Prof. Pajar merupakan Guru Besar dalam bidang Sosiologi Perubahan Sosial dan Wakil Dekan Bidang Akademik Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia memiliki keahlian dalam sosiologi perubahan sosial, pemberdayaan masyarakat, analisis masalah sosial, dan sosiologi lingkungan.
Prof. Pajar mengawali paparannya dengan menjelaskan perubahan pola kehidupan masyarakat akibat perkembangan teknologi digital. Jika pada masa lalu informasi lebih banyak diperoleh melalui televisi, radio, dan surat kabar dengan arus informasi yang relatif terpusat, saat ini smartphone memungkinkan masyarakat memperoleh informasi secara cepat, kapan saja, dan dari mana saja.
Kondisi tersebut menghadirkan peluang sekaligus tantangan. Masyarakat menghadapi information overload, termasuk misinformasi, disinformasi, dan hoaks. Perubahan digital juga melahirkan berbagai bentuk disrupsi dalam kehidupan sosial dan ekonomi serta dapat menciptakan kondisi hyperreality, sebagaimana dikemukakan Jean Baudrillard, ketika simulasi semakin sulit dibedakan dari realitas.
Perubahan tersebut kemudian berkelindan dengan berbagai persoalan sosial, mulai dari persoalan keluarga, perjudian daring, stres, hingga berbagai persoalan sosial lainnya. Situasi tersebut, menurut Prof. Pajar, menunjukkan semakin pentingnya kontribusi ilmuwan sosial dalam memahami sekaligus membantu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Ia kemudian memperkenalkan dua peran penting ilmuwan, yaitu interpretation dan transformation.
Interpretasi merupakan kemampuan untuk memahami, menjelaskan, dan menghasilkan pengetahuan mengenai fenomena sosial. Dalam menjalankan fungsi ini, ilmuwan membutuhkan kemampuan mengumpulkan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian menganalisisnya menggunakan teori serta menarik kesimpulan.
Namun, Prof. Pajar mengingatkan agar ilmuwan tidak berhenti pada tahap interpretasi. Penelitian yang menghasilkan banyak buku dan artikel belum tentu secara otomatis mengubah kondisi masyarakat yang menjadi objek penelitian.
Gagasan tersebut dikaitkan dengan pemikiran Karl Marx mengenai pentingnya tidak hanya menafsirkan dunia, tetapi juga mengubahnya. Prof. Pajar juga mengangkat pandangan Prof. Sajogyo bahwa ilmuwan sosial semestinya turut membantu menemukan solusi atas berbagai persoalan masyarakat.
Karena itu, ilmuwan perlu bergerak dari interpretation menuju intervention, yaitu melakukan intervensi konkret untuk mendorong perubahan sosial. Salah satu contoh yang diberikan adalah Muhammad Yunus yang tidak hanya mengkaji persoalan kemiskinan, tetapi juga mendirikan Grameen Bank sebagai bentuk intervensi untuk membantu masyarakat miskin.
Perubahan Besar Berawal dari Inisiatif Kecil
Dalam menjelaskan mekanisme perubahan sosial, Prof. Pajar menekankan bahwa perubahan dapat dimulai dari diri sendiri. Gagasan tersebut dikaitkan dengan filosofi Mahatma Gandhi, konsep ibda' binafsi, serta QS. Ar-Ra'd ayat 11 mengenai perubahan yang dimulai dari diri dan masyarakat.
Ia kemudian memperkenalkan konsep trickle-down effect, yaitu perubahan yang diawali dari tindakan kecil dan konkret. Ketika sebuah eksperimen berhasil, model tersebut dapat ditiru oleh pihak lain dan kemudian berkembang menjadi perubahan yang lebih luas.
Media sosial dapat mempercepat proses tersebut dengan mendokumentasikan dan menyebarluaskan pengalaman keberhasilan sehingga memungkinkan terjadinya proses replikasi.
Dalam konteks ini, social innovation dan social entrepreneurship menjadi instrumen penting. Social innovation merupakan pengembangan solusi baru dan berkelanjutan untuk menjawab persoalan sosial, sedangkan social entrepreneurship berorientasi pada implementasi, pengelolaan, dan pengembangan solusi agar dapat terus berjalan secara berkelanjutan.
Prof. Pajar memberikan sejumlah contoh praktik perubahan yang bermula dari inisiatif lokal. Gerakan bank sampah atau Sedekah Sampah yang bermula dari satu desa di Badekan, Bantul, kemudian ditiru di berbagai tempat. Demikian pula pemanfaatan selokan untuk budidaya ikan di Singosaren, Bantul.
Dalam konteks pengembangan masjid, Masjid Jogokariyan Yogyakarta menjadi contoh bagaimana inovasi pelayanan jamaah, termasuk Gerakan Mengnolkan Saldo dan berbagai program sosial seperti Jumat Berkah, dapat menjadi model yang kemudian ditiru oleh masjid lainnya.
Contoh lain adalah perubahan Gili Ketapang dari wilayah yang sebelumnya dikenal sebagai kawasan nelayan menjadi destinasi wisata setelah inisiatif satu kelompok pariwisata berhasil menarik pengunjung dan kemudian diikuti oleh masyarakat lainnya.
Prof. Pajar juga menjelaskan bagaimana potensi dan persoalan lingkungan dapat dikembangkan menjadi peluang ekonomi sekaligus memberikan dampak sosial. Sungai yang sebelumnya dipenuhi sampah, misalnya, dapat dikembangkan menjadi kegiatan wisata seperti tubing. Aktivitas tersebut tidak hanya menciptakan pendapatan bagi masyarakat, tetapi juga memberikan insentif untuk menjaga kebersihan sungai.
Teknologi digital kemudian berperan dalam proses upscaling, sehingga inovasi yang awalnya bersifat lokal dapat dikenal, dipelajari, dan direplikasi oleh masyarakat di wilayah lain.
Mendorong Demonstration Plot dalam Pengembangan Masyarakat Islam
Pada bagian akhir, Prof. Pajar mengaitkan gagasan transformasi sosial dengan konsep halal dan tayyib sebagaimana terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: 168. Mahasiswa PMI didorong untuk tidak hanya menjadi pengamat persoalan masyarakat, tetapi juga dapat mengambil peran sebagai social innovator maupun social entrepreneur dengan memanfaatkan teknologi informasi.
Sebagai penutup, Prof. Pajar menekankan pentingnya membangun demonstration plot (demplot) atau proyek percontohan sebagai langkah awal perubahan. Demplot menjadi model praktis yang dapat diuji, dievaluasi, dan kemudian direplikasi apabila terbukti berhasil.
Dalam konteks dakwah dan pengembangan masyarakat Islam di lingkungan PMI UIN Cirebon, perubahan tidak harus selalu dimulai dari program yang besar. Sebaliknya, perubahan dapat dimulai dari satu pengalaman, satu komunitas, atau satu inovasi kecil yang berhasil. Ketika model tersebut memberikan dampak positif, ia dapat ditiru oleh pihak lain dan berkembang menjadi gerakan perubahan yang lebih luas.
Memperkuat Peran PMI di Era Transformasi Digital
International Studium Generale ini mempertemukan perspektif internasional mengenai transformasi digital masyarakat Muslim di Filipina dengan perspektif sosiologi perubahan sosial dan pengembangan masyarakat dari Indonesia.
Kedua pemateri sama-sama menegaskan bahwa teknologi digital bukanlah tujuan akhir. Teknologi harus diarahkan untuk memperkuat kemaslahatan, keadilan, inklusi, inovasi sosial, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan berkelanjutan.
Bagi Program Studi S2 PMI UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, gagasan tersebut menjadi relevan dalam memperkuat kapasitas mahasiswa sebagai akademisi sekaligus calon penggerak perubahan masyarakat. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu memahami dan menjelaskan berbagai persoalan sosial, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk merancang intervensi, mengembangkan inovasi, serta membangun model pemberdayaan yang dapat direplikasi.
Melalui kegiatan International Studium Generale ini, S2 PMI UINSSC menegaskan komitmennya untuk memperluas wawasan akademik mahasiswa, memperkuat jejaring internasional, dan mendorong lahirnya inovasi pengembangan masyarakat Islam yang adaptif terhadap perkembangan teknologi serta berlandaskan nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, transformasi digital diharapkan tidak hanya menghasilkan masyarakat yang semakin terhubung secara teknologi, tetapi juga masyarakat yang semakin inklusif, berdaya, berkeadilan, berkelanjutan, dan berorientasi pada kemaslahatan.